Bisnis

Bookbuilding Rampung, Lima Perusahaan Bakal Raup Dana 680 Milyar

Bookbuilding Rampung, Lima Perusahaan Bakal Raup Dana 680 Milyar

hargajualgenset.club Lima perusahaan merampungkan bookbuilding sehubungan dengan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, dengan potensi meraup dana senilai total Rp 680,04 miliar. Lima calon emiten baru tersebut adalah PT Garudafood Putra Putri Jaya, PT Jaya Bersama Indo, PT Propertindo Mulia Investama, PT Superkrane Mitra Utama, dan PT HK Metals Utama. Berdasarkan kompilasi keterbukaan yang dipublikasikan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Senin (1/10), Garuda Food menetapkan harga IPO Rp 1.284 per saham, dengan melepas 35 juta saham. Kemudian, Jaya Bersama Indo yang merupakan pengelola restoran bermerek The Duck King, Fook Yew, Panda Bowl, serta tujuh sub-brand dari The Duck King, mematok harga IPO Rp 505 per saham. JBI melepas sebanyak 513,33 juta saham. Sementara itu, Superkrane Mitra Utama memutuskan untuk melepas 300 juta saham dengan harga IPO sebesar Rp 700 per saham. Sedangkan Propertindo Mulia Investama menetapkan harga IPO Rp 110 per saham, dengan melepas maksimum 1,49 miliar saham kepada publik. Di lain pihak, HK Metals Utama menyelesaikan fase penawaran awal (bookbuilding) dengan menetapkan harga IPO sebesar Rp 230 per saham. “HK Metals Utama menawarkan sebanyak 1,02 miliar saham,” ungkap KSEI dalam keterangan resmi, kemarin. Propertindo Mulia Investama merupakan calon emiten dengan penawaran saham terbanyak dibandingkan empat perusahaan lain yang baru merampungkan bookbuilding IPO saham. Sementara, Jaya Bersama Indo berpeluang mencatatkan nilai IPO terbesar dari lima perusahaan tersebut, dengan potensi dana hingga Rp 259,23 miliar. Adapun HK Metals Utama berpotensi meraup dana Rp 235 miliar dari IPO saham, Superkrane Mitra Utama Rp 210 miliar, Propertindo Mulia Investama Rp 164,17 miliar, dan Garuda Food Rp 44,94 miliar.

Meski demikian, khusus Garuda Food, sebetulnya perseroan berniat melepas 762,84 juta saham atau setara 10,34% melalui IPO. Sebelumnya, Head of Communication Garuda Food Dian Astriana mengungkapkan, sebanyak 727,84 juta saham dari total saham yang dilepas sebanyak 762,84 juta saham, dialokasikan untuk investor yang sebelumnya menyerap obligasi wajib konversi (mandatory convertible bond/MCB) perseroan. Sisanya 35 juta saham atau ekuivalen 0,47% ditawarkan kepada publik secara umum. Namun, Dian memastikan, harga untuk eksekusi konversi MCB menjadi saham akan sejalan dengan penetapan harga IPO. Berpatokan dengan hal tersebut, nilai IPO Garuda Food yang termasuk saham diserap publik dan konversi MCB bernilai Rp 979,49 miliar. Antre IPO Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan, jumlah emiten yang tercatat saat ini mencapai 600 perusahaan. Hal itu seiring pencatatan saham (listing) PT Natura City Developments Tbk (CITY) di BEI pada 28 September 2018. Sementara itu, berdasarkan data BEI, jumlah emiten baru tahun ini telah mencapai 37 perusahaan, dengan perolehan dana senilai total Rp 12,97 triliun. Adapun calon emiten baru yang kini masuk pipeline BEI terkait rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham sebanyak 23 perusahaan. Direktur Utama BEI Inarno Djayadi mengatakan, pihaknya terus mendorong perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di bursa, baik secara kuantitas maupun kualitas. “Jadi tidak hanya jumlahnya saja, tetapi juga kualitasnya,” kata Inarno.

Inarno menegaskan, BEI membuka kesempatan untuk semua sektor usaha melantai di bursa. Terlebih, dari 600 perusahaan yang tercatat di bursa, mereka juga memiliki anak-anak perusahaan yang potensial untuk go public. “Misalnya Natura City yang anak usahanya Sentul City. Masih banyak yang semacam ini. Kami usahakan untuk IPO, dari 600 ini sudah banyak anak-anak perusahaan yang berpotensi go public,” tutur dia. Selain IPO, menurut Inarno, pihaknya juga terus menyosialisasikan penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) kepada para emiten. Perusahaan-perusahaan yang berafilisasi dengan emiten yang ada saat ini dinilai sudah menerapkan GCG, karena induk usahanya sudah terlebih dahulu tercatat di bursa. Pada kesempatan yang sama, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, ke depan, pihaknya fokus memperbaiki emitenemiten yang sudah terdaftar di bursa, terutama dari sisi GCG. Dengan begitu, akan timbul kepercayaan dari investor. Beberapa upaya juga akan terus dilakukan oleh BEI untuk meningkatkan jumlah emiten, antara lain adanya kantor perwakilan BEI dari Sabang hingga Merauke, kegiatan edukasi one on one meeting go public, workshop go public, peraturan baru untuk meningkatkan kemudahan akses perusahaan ke pasar modal, serta penyederhanaan proses dan dokumen pencatatan saham untuk efisiensi industri pasar modal melalui draf I-A yang baru. BEI juga berencana untuk mempublikasikan notasi khusus, sehingga investor dapat dengan mudah melihat beberapa informasi yang signifikan terkait perusahaan tercatat sebelum mengambil keputusan investasi. “Dengan semakin banyaknya jumlah perusahaan tercatat di BEI diharapkan akan semakin banyak pilihan instrumen investasi bagi investor, serta meningkatkan likuiditas pasar modal,” kata Nyoman. Tahun ini, pelaksanaan IPO saham berpeluang memecahkan rekor 38 perusahaan yang pernah dicapai pada 2017. BEI yakin total penambahan emiten baru tahun ini mencapai 44-45 perusahaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *